Aku
Aku adalah seorang remaja
perempuan penyuka syair puisi koran hari minggu. Aku kadang menyelinapkan satu
lembar koran hari minggu dari perpustakaan untuk dibaca setelahnya. Kata kata yang tersusun berirama penuh makna, aku menyukainya. Maaf saja mungkin koran hari minggu di perpustakaan sekolah kekurangn lembar terakhirnya.
...
BEBAS
Anak tangga paling atas aku
pijak. Diatas sini tempat yang nyaman, dan bebas. Melihat semua yang terjadi
dari atas, terlihat sederhana. Rumah rumah yang berderet dengan gedung asrama
di setiap sudutnya. Lahan yang luas seakan wilayah istana kerajaan. Di ujung
lainnya empat gedung berhadapan dibatasi pohon besar nan rindang. Pohon yang
membatasi pandangan. Tak lupa di belakang gedung asrama, terdapat sungai tampak
berliku, sawah hijau terbentang bagai permadani di kaki langit, gunung
menjulang, berpayung awan, ya gitu deh,
indah pemandangan.
Aku menduduki tembok tertinggi,
mataku memandang luas, lalu tersenyum. Ah, This is life.
Tempat ini adalah markas para
setengah hati. Beberapa orang perempuan yang terlalu setia. Setia pada keadaan
dan dunia, atau bahkan tentang seseorang dan cinta. Kami setia saat dunia tidak
mendukung, dan menolak apa yang kami inginkan. Kami memutar balik pemikiran
untuk sekedar diakui.
Ini juga tempatku menyendiri
untuk berpura pura, berkhayal, bermimpi, berandai andai, atau sinonim
semacamnya. Aku biasanya berdiri diatas tembok tertinggi itu, sambil berteriak
semauku, melambai lambai pada apapun yang terbang diatasku, seakan aku burung
elang yang terbang bebas. Kadang aku menaiki meja di samping tembok itu,berdiri
tegak dan mengumpulkan wibawa. Terbayang ribuan orang di depan ku bertepuk
tangan, sebelum aku melakukan pidato-pidato singkat tentang inovasi, opini,
atau pengalamanku didepan mereka semua. Terkadang aku membayangkan aku berada
di TEDx atau One young world. Tapi kadang juga aku hanya berteriak untuk
melepas emosi.
Capung capung
yang terbang, pohon pohon yang tertiup angin, atau bentuk awan di atasku bisa menjadi tema pidato ku, tapi
bisa juga sebagai ratapan terhadap keadaan. Rumah-rumah dan asrama yang
berderet di bawahku pun bisa menjadi keduanya. Saat saat ketika aku bangga, aku
tulis beberapa bait syair puisi, begitupun saat aku merasa kecewa.
...
Terbangun dengan kantuk seperti
biasa, membutuhkan tambahan waktu untuk kembali terlelap, karena pagi yang masih
terlalu gelap. Fajar yang disambut oleh pelajaran matematika dan perut lapar,
melarikan tanganku ke satu satunya makanan -yang sebenarnya bukan makanan,
yaitu bubuk fla, untuk ditambul shubuh shubuh.
Pelajaran matematika berjalan dengan normal, dan rasa lapar juga enek karena bubuk fla terbayar dengan tahu bubuk katring yang diberikan oleh ibu penjaganya dengan porsi sangat sedikit.
“bu, mau lagi” beberapa santriwati yang kelaparan memprotes porsi tahu nya yang miris perbandingannya dengan nasi yang diambil.
“iya neng, darisananya sedikit dikirim tahu nya, jadi takut ga kebagian yang lainnya” Ibu itu berlasan, dan penonton kecewa, mereka pun mengambil kerupuk dan kecap sebagai gantinya. Jangan ragukan rasa dan kenikmatan makanan katring kami, pesantren ini makanannya bikin ngiler kadang kadang, apalagi kalau puasa. Tahu bubuk hari ini adalah top menu untuk sarapan.
Pelajaran matematika berjalan dengan normal, dan rasa lapar juga enek karena bubuk fla terbayar dengan tahu bubuk katring yang diberikan oleh ibu penjaganya dengan porsi sangat sedikit.
“bu, mau lagi” beberapa santriwati yang kelaparan memprotes porsi tahu nya yang miris perbandingannya dengan nasi yang diambil.
“iya neng, darisananya sedikit dikirim tahu nya, jadi takut ga kebagian yang lainnya” Ibu itu berlasan, dan penonton kecewa, mereka pun mengambil kerupuk dan kecap sebagai gantinya. Jangan ragukan rasa dan kenikmatan makanan katring kami, pesantren ini makanannya bikin ngiler kadang kadang, apalagi kalau puasa. Tahu bubuk hari ini adalah top menu untuk sarapan.
Asrama pagi itu garing seperti
biasa, ngantri kamar mandi sebagai formalitas belaka sambil berbaring di kasur,
yang berakhir ga kebagian antrian dan ga jadi mandi, cuman cuci muka gosok gigi
lalu kembali ke kelas. Nah emang gini sih, biasanya serentak sering mandi kalau
ujian atau rapat global acara aja, karena disatuin sama putra
(laki-laki). Gini-gini juga tetep cantik, mandi nya siang aja.
Pelajaran bahasa indonesia dan
matematika (lagi) berjalan normal. Aku dan beberapa temanku yang berniat
memperbaiki nilai rapot Qowaid, mempersiapkan tekad dan buku tulis yang dibuat
rapih untuk menghadap ‘Sang Bapak Ruhan’, kecewa ketika orang yang dituju tidak
ada di kantornya dan kami terpaksa kembali ke kelas.
Pelajaran terakhir yaitu pelajaran paling so’ tahu. Yaitu bimbingan konseling yang mengurusi hidup orang dengan paksa. Beberapa orang tertawa karena pembahasan dan pembawaan bahasa sang guru, namun aku hanya bertanya tanya apa yang dituju sang guru, dan apa doktrin yang hendak ia tanamkan dan aku harus hindari untuk dipengaruhi.
Siang hari nya seperti 2 minggu terakhir selalu diisi acara yang dimana aku sebagai ‘Ketua Pelaksana 1’ agak membingungkan dengan keadaan hatiku yang juga bingung, karena efek rapat global suatu acara besar angkatan, dimana aku sebagai ‘Koordinator Bidang Acara’ merasa gagal. Dan siang ini aku mondar mandir ke aula dan laboratorium bahasa melihat orang orang yang berlatih penutupan lomba bahasa dengan penuh drama. Ya gitu deh orang sok sibuk.
Dan maghrib, aku merasa lelah, lalu mencoba tidur sejenak saat beberapa orang sengaja mengganggu.
“Mau gangguin ifa ah,” toal toel toal toel
“ih ifa pipinya gaada”
“ifa pipinya gedein” toal toel toal toel
..Terus begitu hingga seseorang memanggilku untuk mengurusi juri cerdas cermat malam ini, dan hatiku membara kepada mereka yang sejak tadi toal toel, apalagi ada yang bilang;
“fa daritadi kok tidur terus sih?” disitu aku belotot dalam hati
‘Lah kapan gua tiduur? Sebelum dzuhur nggak, setelahnya apalagi, langsung ke aula, ga makan, gaada waktu, pulang acara 5 menit sebelum adzan, lah cukup apa? Dibilang tidur terus? dih’ aku memet mumet sendiri sambil pergi keluar mushala. Untungnya malem ini langit penuh bintang, dan asrama ricuh oleh tawa dan teriakan orang orang yang sedang bernostalgia juga bercerita hantu.
Pelajaran terakhir yaitu pelajaran paling so’ tahu. Yaitu bimbingan konseling yang mengurusi hidup orang dengan paksa. Beberapa orang tertawa karena pembahasan dan pembawaan bahasa sang guru, namun aku hanya bertanya tanya apa yang dituju sang guru, dan apa doktrin yang hendak ia tanamkan dan aku harus hindari untuk dipengaruhi.
Siang hari nya seperti 2 minggu terakhir selalu diisi acara yang dimana aku sebagai ‘Ketua Pelaksana 1’ agak membingungkan dengan keadaan hatiku yang juga bingung, karena efek rapat global suatu acara besar angkatan, dimana aku sebagai ‘Koordinator Bidang Acara’ merasa gagal. Dan siang ini aku mondar mandir ke aula dan laboratorium bahasa melihat orang orang yang berlatih penutupan lomba bahasa dengan penuh drama. Ya gitu deh orang sok sibuk.
Dan maghrib, aku merasa lelah, lalu mencoba tidur sejenak saat beberapa orang sengaja mengganggu.
“Mau gangguin ifa ah,” toal toel toal toel
“ih ifa pipinya gaada”
“ifa pipinya gedein” toal toel toal toel
..Terus begitu hingga seseorang memanggilku untuk mengurusi juri cerdas cermat malam ini, dan hatiku membara kepada mereka yang sejak tadi toal toel, apalagi ada yang bilang;
“fa daritadi kok tidur terus sih?” disitu aku belotot dalam hati
‘Lah kapan gua tiduur? Sebelum dzuhur nggak, setelahnya apalagi, langsung ke aula, ga makan, gaada waktu, pulang acara 5 menit sebelum adzan, lah cukup apa? Dibilang tidur terus? dih’ aku memet mumet sendiri sambil pergi keluar mushala. Untungnya malem ini langit penuh bintang, dan asrama ricuh oleh tawa dan teriakan orang orang yang sedang bernostalgia juga bercerita hantu.
Itu adalah hari ini, di asrama,
tepatnya di sebuah pesantren yang keren. Jangan bayangkan santriwati itu cewe
lusuh yang kerjaannya belajar dan diem di masjid. Tapi jangan juga kalian
bayangkan anak nakal yang tidak mendapat perhatian.
Ada banyak hal yang baru aku sadari di tempat ini. Bahkan
tentang dunia dan cinta.
Comments
Post a Comment